Ada masa ketika kita tahu bahwa sesuatu perlu berubah,
tetapi kita tidak tahu harus mulai dari mana.
Mungkin Anda baru lulus dan sedang mencoba
memahami dunia kerja yang ternyata tidak sesederhana yang dibayangkan.
Mungkin Anda sedang mencari pekerjaan. Sudah
mengirim CV ke sana-sini, mengikuti berbagai proses seleksi, tetapi belum juga
menemukan kesempatan yang terasa tepat.
Mungkin Anda sudah beberapa tahun bekerja,
tetapi mulai bertanya-tanya apakah karier yang sedang dijalani benar-benar
ingin Anda teruskan.
Atau mungkin Anda melihat orang-orang di
sekitar terus bergerak maju, sementara Anda merasa tertinggal.
Teman seangkatan sudah menjadi manager.
Orang lain sudah punya spesialisasi.
Ada yang sudah berganti karier, membangun bisnis, atau mendapatkan kesempatan
yang tampaknya begitu menarik.
Sementara Anda diam-diam bertanya:
“Saya sendiri sebenarnya sedang ke mana?”
Kadang bukan karena kita tidak mau bergerak.
Kita hanya tidak tahu harus bergerak ke
arah mana.
Dan ketika ketidakjelasan itu berlangsung
cukup lama, ia bisa berubah menjadi keraguan.
Tentang karier.
Tentang kemampuan.
Tentang masa depan.
Bahkan tentang diri sendiri.
Ketika Hidup Memasuki Babak Baru
Ada juga masa ketika kita tidak sedang
mengalami masalah besar.
Karier berjalan cukup baik. Pekerjaan masih
ada. Target masih tercapai.
Tetapi tiba-tiba muncul pertanyaan yang
sebelumnya tidak pernah terpikirkan:
“Setelah ini apa?”
Mungkin Anda baru mendapatkan promosi dan tuntutan
peran Anda berubah lebih berat.
Mungkin tanggung jawab semakin besar, tetapi
rasa percaya diri justru naik-turun.
Mungkin Anda telah mencapai posisi yang dulu
begitu diinginkan, tetapi ternyata pencapaian itu tidak memberikan rasa puas
seperti yang dibayangkan.
Atau mungkin, setelah bertahun-tahun bekerja,
Anda mulai menyadari bahwa apa yang penting bagi Anda sekarang sudah tidak sama
dengan beberapa tahun lalu.
Tidak selalu ada sesuatu yang salah.
Bisa jadi, Anda sedang berubah.
Dan setiap kali kehidupan memasuki babak baru,
kita pun sering kali perlu menemukan kembali cara kita melihat diri sendiri,
pekerjaan, dan masa depan.
Tidak Semua Kebingungan Berarti Kita
Kehilangan Arah
Sering kali ketika merasa bingung, kita
langsung menyimpulkan bahwa ada yang salah dengan diri kita.
“Saya kurang kompeten.”
“Saya kalah bersaing.”
“Saya sudah terlalu tua untuk mulai lagi.”
“Saya seharusnya sudah lebih jauh.”
“Kenapa orang lain bisa, sementara saya
belum?”
Padahal, belum tentu demikian.
Bisa jadi Anda memang sedang menghadapi
situasi yang sulit.
Dan itu memang tidak mudah.
Tetapi bisa juga Anda sedang berada di sebuah
titik transisi, ketika cara lama tidak lagi cukup, sementara cara baru belum
sepenuhnya terbentuk.
Di antara keduanya, kita sering merasa
tersesat.
Padahal mungkin kita sedang mencari arah yang
baru.
Masalahnya, Kita Terlalu Sibuk untuk Berhenti
Kehidupan profesional jarang memberi kita
waktu untuk benar-benar berhenti.
Setelah lulus, kita mengejar pekerjaan.
Setelah bekerja, kita mengejar target.
Setelah target tercapai, ada target
berikutnya.
Setelah mendapat promosi, datang tanggung
jawab baru.
Di saat yang sama, ada keluarga, relasi,
kesehatan, kebutuhan finansial, dan berbagai peran lain yang juga membutuhkan
perhatian.
Kita begitu sibuk menjalani hidup, sampai lupa
berhenti untuk memahami kehidupan seperti apa yang sebenarnya sedang kita
bangun.
Padahal, ada pertanyaan-pertanyaan yang
mungkin sudah lama menunggu untuk kita dengarkan:
Apa yang sebenarnya penting bagi saya
sekarang?
Apa yang ingin saya capai berikutnya?
Apa yang membuat saya merasa hidup dan
bermakna dalam pekerjaan?
Apakah saya masih ingin berada di jalur ini?
Apa yang sebenarnya membuat saya ragu?
Dan kalau saya berani memilih, apa yang ingin
saya lakukan selanjutnya?
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak selalu
memiliki jawaban yang cepat.
Dan mungkin memang tidak seharusnya.
Kadang Kita Tidak Membutuhkan Jawaban. Kita Lebih
Membutuhkan Ruang untuk Berpikir.
Selama lebih dari 25 tahun mendampingi
individu, pemimpin, dan organisasi, saya menemukan bahwa banyak orang
sebenarnya sudah memiliki begitu banyak bekal.
Mereka punya pengalaman.
Mereka punya pengetahuan.
Mereka sudah membaca buku, mengikuti
pelatihan, berdiskusi dengan teman, meminta nasihat, bahkan mencoba mencari
jawaban melalui berbagai cara.
Namun, ada kalanya semua itu tetap belum
membuat keadaan menjadi lebih jelas.
Bukan karena mereka kurang informasi.
Mungkin karena mereka membutuhkan ruang
untuk berpikir.
Ruang untuk mengurai pikiran yang kusut.
Ruang untuk melihat situasi dari perspektif
yang berbeda.
Ruang untuk mengenali apa yang sebenarnya
sedang terjadi di dalam diri.
Ruang untuk membedakan antara apa yang saya
inginkan, apa yang orang lain harapkan dari saya, dan apa yang
selama ini saya lakukan hanya karena terbiasa.
Dan yang tidak kalah penting:
Ruang untuk melihat bahwa mungkin masih ada
lebih banyak kemungkinan daripada yang selama ini terlihat.
Di Situlah Coaching Menjadi Bermakna
Coaching bukan tentang seorang coach yang
memberikan jawaban tentang apa yang harus Anda lakukan.
Bukan pula tentang memberi nasihat atau
menentukan pilihan untuk Anda.
Bagi saya, coaching adalah ruang percakapan
yang membantu seseorang berpikir dengan lebih jernih tentang dirinya,
situasinya, dan langkah yang ingin diambilnya.
Sebagai coach, saya hadir bukan untuk menjadi
orang yang paling tahu tentang hidup Anda.
Anda yang paling tahu tentang hidup Anda.
Peran saya adalah menjadi reflection
partner: mendengarkan dengan utuh, mengajukan pertanyaan yang mungkin belum
pernah Anda tanyakan kepada diri sendiri, membantu Anda melihat pola dan
perspektif yang mungkin selama ini luput dan mengurai apa yang sedang terjadi,
serta menemani Anda mengeksplorasi berbagai kemungkinan.
Kadang kita bisa datang dengan sebuah masalah
yang sangat spesifik.
Kadang kita bahkan belum tahu apa masalahnya.
Tidak apa-apa.
Anda tidak harus datang dengan tujuan yang
sudah sangat jelas.
Tidak harus sudah memiliki semua jawabannya.
Yang penting adalah kesediaan untuk melihat
diri sendiri dengan lebih jujur dan terbuka.
Karena dalam banyak hal, kejelasan tidak
selalu datang sebelum kita melangkah; kadang hal ini justru muncul ketika
kita mulai berbicara, bertanya, berefleksi, dan melihat sesuatu dari sudut
pandang yang berbeda.
Mungkin Anda Sedang Berada di Titik Ini
Mungkin Anda sedang mencari pekerjaan dan
mulai kehilangan keyakinan pada diri sendiri.
Mungkin Anda sedang mencoba menentukan arah
karier setelah lulus.
Mungkin Anda merasa tertinggal dan tidak lagi
yakin dengan daya saing Anda.
Mungkin Anda sedang mempertimbangkan career
switch, tetapi takut mengambil risiko.
Mungkin Anda baru menjadi pemimpin dan sedang
mencari cara untuk menjalani peran baru itu dengan lebih percaya diri.
Mungkin Anda sudah bertahun-tahun berada di
posisi yang sama dan mulai merasa stuck.
Mungkin Anda telah mencapai banyak hal, tetapi
mulai bertanya tentang makna dan tujuan di balik semua pencapaian itu.
Atau mungkin dari luar semuanya terlihat
baik-baik saja, tetapi di dalam diri Anda ada sesuatu yang ingin dipahami lebih
dalam.
Ada di mana pun Anda sekarang, Anda tidak
harus memiliki semua jawabannya terlebih dahulu.
Sebelum Anda Menutup Halaman Ini...
Saya ingin mengajak Anda berhenti sejenak.
Tidak perlu menjawab semuanya.
Cukup tanyakan kepada diri sendiri:
1. Apa yang paling banyak memenuhi pikiran
saya akhir-akhir ini?
2. Apa yang sebenarnya sedang saya cari atau
perjuangkan dalam perjalanan profesional saya?
3. Jika saya tidak perlu memenuhi ekspektasi
siapa pun, apa yang ingin saya pilih untuk langkah berikutnya?
Dan mungkin satu pertanyaan terakhir:
Apa yang sebenarnya ingin saya pahami lebih
dalam tentang diri saya saat ini?
Coaching bukan tentang menemukan jawaban yang
diberikan orang lain untuk Anda.
Coaching adalah tentang menemukan jawaban yang
paling selaras dengan diri Anda—dan keberanian untuk mengambil langkah
berikutnya.
Mari Memulai Percakapan.
Klik di siniuntuk memulai percakapan